Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

REKENING DIBOBOL, BANK WAJIB GANTI !!!

 Jika Rekening Anda Dibobol Apa yang harus dilakukan


22 Milyar uang di rekening tiba-tiba lenyap tak bersisa. Whatt?? Begitulah kira-kira gambaran public baru-baru ini. Kasus hilangnya uang nasabah MayBank sebesar 22 M sontak menjadi buah bibir dan viral di social media. Masih segar di ingatan kita, bagaimana kasus yang menjerat Malinda Dee, seorang manajer cantik di City Bank yang berhasil membobol rekening nasabahnya hingga puluhan milyar rupiah. Atau kasus RS alias Vina (Bank BRI) yang berhasil menggelapkan uang nasabah hingga 6 Milyar rupiah. Belum lagi kasus Ani Fatini (Bank Jatim) yang membobol uang nasabah hingga 4,7 Milyar dan masih banyak kasus pembobolan bank lainnya yang sempat terekam oleh media.
 
 
rekening dibobol

 
 
 
Lalu, bagaimana sebenarnya pertanggungjawaban Bank terhadap kasus pembobolan rekening, apalagi yang melibatkan karyawan bank itu sendiri? Apakah bank wajib mengganti setiap kerugian atas pembobolan rekening yang dialami oleh nasabah atau tidak? Bagaimana hukum mengatur hubungan hukum antara Bank dengan Nasabahnya?
 
 
 
Pada dasarnya bubungan hukum antara Bank dengan nasabahnya adalah hubungan hukum perdata yang lahir dari sebuah kesepakatan atau yang biasa kita sebut Perjanjian. Dimana, pihak Bank menjual jasa dan sebaliknya nasabah membeli (memakai/memanfaatkan) jasa bank untuk menyimpan dananya melalui berbagai fasilitas seperti deposito, tabungan, dan fasilitas lainnya. 
 
 
 
Oleh karena itu, maka selain tunduk pada rezim UU No. 7/1992 sebagaimana yang telah diubah dengan UU No. 10/1998 tentang Perbankan (UU Perbankan), hubungan hukum ini juga tunduk pada rezim UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Perlindungan Konsumen) yang mewajibkan Bank selaku pelaku usaha untuk memberikan perlindungan hukum kepada nasabah/konsumennya dalam berbagai aspek, salah satunya adalah aspek keamanan. Saking pentingnya aspek kemananan ini, pembentuk UU sampai mengatur secara jelas dan tegas pada Pasal 37B ayat 1 UU No.10/1998 tentang Perbankan yang membebankan kewajiban pada Bank untuk menjamin kemanan dana nasabah yang disimpan pada Bank. Hal ini pula yang melatar belakangi, mengapa kemudian pemerintah membentuk LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) melalui UU No. 24/2004 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3/2008 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.
 
 
 
Dari gambaran di atas, maka jelas bahwa jika dikemudian hari nasabah/konsumen Bank mengalami suatu masalah (kerugian) akibat dari kesalahan/kelalaian Bank dalam menjaga dan melindungi simpanan nasabah/konsumen padanya, maka Bank secara hukum wajib bertanggungjawab pada nasabah/konsumen tersebut. Tanggungjawab Bank ini juga sudah ditegaskan pada Pasal 1 huruf g UU Perlindungan Konsumen yang menjelaskan bahwa Bank wajib memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima oleh konsumen/nasabah tidak sesuai dengan apa yang di Perjanjikan. Lebih jauh lagi, tanggungjawab ini kembali ditegaskan pada Pasal 19 ayat 1 UU Perlindungan Konsumen yang mewajibkan Bank selaku pelaku usaha untuk memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi (memakai/memanfaatkan) barang dan/atau jasa yang diperdagangkan oleh Bank.
 
 
 
Meski tanggungjawab itu secara jelas ada pada Bank, namun tidak setiap kerugian akibat dari pembobolan rekening itu wajib diganti rugi oleh Bank. Sebab, tak jarang juga pembobolan rekening nasabah/konsumen justru terjadi akibat dari kesalahan/kelalaian dari nasabah/konsumen sendiri misalnya nasabah secara sadar memberikan no. PIN kepada pihak yang tidak jelas, dan lain sebagainya.
 
 
 
Makassar, 11/11/2020
Habibi, SH
Praktisi Hukum

Posting Komentar untuk "REKENING DIBOBOL, BANK WAJIB GANTI !!!"

Berlangganan via Email