Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

AGAR MENJADI PENULIS TAK LAGI JADI WACANA

SERBA SERBI MENULIS: AGAR MENJADI PENULIS TAK LAGI JADI WACANA


 


Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian. Kurang lebih seperti itu hikmah yang bisa diambil dari kutipan salah satu maestro sastra kita yakni Pramoedya Ananta Toer. Hal ini bukan sekadar kutipan belaka tetapi sudah punya banyak bukti di sekitar kita.


Banyak penulis yang dikenang namanya karena buah pemikiran yang ia miliki tetap abadi meskipun jasadnya tidak lagi di dunia. Pemikiran atau karya-karya seorang penulis biasanya diabadikan pada versi cetak berbentuk buku atau tak jarang juga diabadikan pada media digital seperti e-book, artikel pada website, e-jurnal atau bahkan diabadikan dalam platform kepenulisan

 

Dari salah satu alasan ini banyak orang yang juga tertarik menggeluti dunia kepenulisan. Banyak yang tertarik menjadi seorang penulis dan ingin mengikuti jejak para penulis yang namanya sudah tenar. Di zaman ini, menjadi seorang penulis bisa dikatakan mudah. Bagaimana tidak, media untuk menyalurkan karya sudah banyak bertebaran di sekitar kita. Tak ketinggalan peran komunitas menulis yang sering mengadakan kelas belajar menulis baik itu berbayar ataupun gratis. Kondisi ini sudah sangat memanjakan orang-orang yang tertarik menggeluti dunia kepenulisan. Tapi ternyata, fasilitas ini tidak bisa menjamin tercapainya impian kita menjadi seorang penulis.

 

Banyak orang ke sana kemari mendaftar kelas menulis tapi tak pernah menghasilkan karya. Bahkan adapula yang terlibat pada kepengurusan komunitas literasi tapi karya-karyanya masih nihil. Jangankan buku antologi, satu karya pun terasa susah. Memang benar ada orang seperti itu? Yah, banyak yang seperti itu terutama pada kalangan siswa. Sudah terlibat dalam kepengurusan komunitas menulis tapi dirinya sendiri masih bingung harus lahirkan karya apa.

 

Fenomena yang cukup buat miris ini tentunya terjadi karena ada sebab. Pada bagian ini, kita akan cari tau bersama sebab-sebab yang menjadikan impian menjadi penulis hanya wacana. Berikut ini adalah penyebab utamanya.

 

 

1.      Malas membaca

 

Bagi seorang penulis, membaca adalah rutinitas utama yang perlu dilakukan. Banyak manfaat yang penulis bisa dapatkan dari membaca di antaranya, bisa menambah kosakata, memperkaya wawasan sehingga bahan tulisan kita juga semakin luas serta bisa belajar dari gaya kepenulisan penulis lain.

 

Tapi sayangnya, beberapa orang yang mengaku ingin menjadi penulis minat bacanya masih rendah. Kalau malas membaca ini dipelihara terus, akan sangat berpengaruh bagi motivasi menuis kita. Dengan malas membaca, kita akan lebih mudah terserang penyakit writer’s block yang disebabkan karena tidak jelasnya gambaran topik yang kita tulis, masih merasa kaku memainkan kata dan lain-lain. Jika writer’s  block ini terjadi dan tidak segera diatasi, karya yang diimpikan akan sulit diraih.

 

2.      Malas latihan

Hambatan selanjutnya adalah malas latihan. Tak hanya menyerang mereka yang malas membaca tapi juga bisa menyerang mereka yang sudah gemar membaca. Dari anggota komunitas menulis yang saya temui, banyak di antara mereka yang senang membaca tapi masih belum bisa take action. Mereka hanya mempelajari teori tanpa praktik. Ilmu mereka hanya diendapkan bukan dieksplorasi.

 

Parah sekali jika seorang yang mimpi menjadi penulis tapi malas latihan menulis. Mau lahirkan karya lewat apa kira-kira?

 

3.      Masih suka menunda

Nah, permasalahan ini juga menjadi penghambat kita menghasilkan karya. Meskipun menunda itu tak selamanya berarti negatif. Bisa jadi kita menunda pengerjannya karena ada sesuatu yang lebih penting itu tidak apa-apa. Tapi kalau menundanya sampai kebablasan (tidak menyelesaikan karya dalam jangka waktu yang cukup lama) ini akan member dampak negatif bagi kita.

 

Beralasan tidak punya waktu atau mengatakan masih ada waktu nanti adalah jebakan bagi diri kita sendiri. Karena kita tidak pernah tahu kesibukan apalagi di waktu selanjutnya.

 

4.      Tidak punya target dan tidak konsisten

Mempunya target sangat membantu pada proses penyelesaian karya kita. Kalau kita menulis tanpa target, kita akan menulis sesuka hati kita. Kalau dalam satu waktu kita sedang bad mod, kita cenderung mengikuti apa yang kita inginkan salah satunya santai-santai dan meninggalkan karya yang ingin kita susun. Tapi sebaliknya, kalau kita punya target yang jelas seperti jumlah karya yang ingin dihasilkan perhari, target waktu pengerjaan dan lain-lain akan membantu memacu semangat kita untuk menyelesaikannya.

 

 Di atas adalah penghambat utama seseorang dalam menulis. Tentunya setiap penulis punya hambatan masing-masing. Tetapi, semoga beberapa hambatan utama di atas bisa mewakili teman-teman yang membaca artikel ini. Untuk mengetahui dan menatasi hambatan selain di atas, teman-teman bisa memeriksa sendiri apa yang selama ini menghalangi kita produktif hasilkan karya lalu coba carikan solusinya.

 

Selanjutnya, kita akan membahas cara mengatasi hambatan yang kita sbeutkan tadi. Dari masalah di atas ada dua kunci utama yang bisa kita terapkan untuk mengatasi hambatan tersebut. Dua kunci itu adalah membentuk kebiasaan dan konsisten menjalankannya. Langsung saja kita bahas sama-sama.

 

Strategi membentuk kebiasaan baru:

1.      Mendigentifikasi lingkungan yang terkait dengan kebiasaan yang ingin kita ubah. Misal, kita sulit menyelesaikan tulisan karena terpancing suara sinetron di televise. Bisa dilihat, faktornya adalah suara televisi. kita bisa ubah hambatan itu dengan meilih tempat yang tidak dijangkau oleh suara-suara itu lagi atau mematikan televise saat menulis.

2.      Pahami dorongan atau motivasi kita membentuk kebiasaan menulis. Motivasi berperan penting untuk mendorong usaha kita untuk berubah. Tanpa motivasi yang kuat maka kebiasaan baru akan sulit dibentuk

3.      Ganti kebiasaan buruk yang menghambat kita menulis. Misalnya, saat ada waktu luang kita biasanya scrolling instagram tanpa ada tujuan yang jelas, maka kita ganti jadi browsing bacaan untuk bahan tulisan yang ingin kita buat.

4.      Beri reward diri sendiri apabila kita berhasil melakukan kebiasaan menulis tersebut.

5.      Minta bantuan kepada orang yang menurut kita berpengaruh untuk membantu kita konsisten.

 

Semoga sedikit strategi di atas bisa membantu kita untuk membentuk kebiasaan menulis dan bisa konsisten. Tetap semangat dan jangan lupa kuatkan motivasi apa yang mendasari kita untuk menjadi penulis agar kita tidak berhenti di tengah jalan.

Posting Komentar untuk "AGAR MENJADI PENULIS TAK LAGI JADI WACANA"

Berlangganan via Email