Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Peran Penggunaan Istilah Di Media

"Mereduksi makna kata pemerkosaan pada headline berita juga berbahaya."

By. Sandra Ramli



Ini bukan soal membongkar aib, bukan juga soal bahasa sarkastik, apalagi mengubah kata perkosa sebagai usaha toxic agar korban lainnya "get trigger" biar bicara ke publik. Ini persoalan bias makna, sudut pandang pembaca, dan manfaat dari headline tersebut.  Semisal, "istri kerja diluar negeri, suami cabuli siswa SMK hingga hamil." kalau merujuk headlinenya kira-kira kita akan memulai premisnya "karena istri kerja diluar negeri, maka suami mencabuli siswa SMK." padahal kalau dibaca seksama secara tersirat intrepetasi yang paling menganalogikan kasus yang terjadi adalah "karena kesepian, seorang suami memperkosa siswa SMK."

Bukan karena istrinya kerja, tapi karena tidak tahan sendiri. Lalu Kongklusinya bukan mencabuli hingga hamil, tapi memperkosa hingga hamil. Mengapa penggunaan kata perkosa diganti menjadi cabuli? padahal dari segi relevansi kata yang tepat antara teks dan konteks adalah perkosa.

Masalah penggunaan kata yang disandarkan pada norma dan ketakutan menggunakan kata yang lebih kontekstual adalah alasan rendahnya kesadaran masyarakat pada hukum yang berlaku. Bukankah lahirnya kata/istilah perkosa untuk merunutkan secara jelas hukum dan siksaan bagi pelaku kekerasan tersebut. Norma-norma bukan alasan agar kasus kekerasan dan pelecehan seksual harus direduksi maknanya agar kondisi sosial tentram dan damai. Akibatnya, makna yang tepat menjadi bias makna, dan konteks yang besar terasa kecil, perilaku kriminal bergeser perilaku asusila, Kejahatan disetarakan kekhilafan. Sejauh mana pembaca akan sadar bahwa perbuatan asusila menghamili itu berbahaya kalau kata yang diusung adalah mencabuli, berbuat senonoh, melecehkan, asusila, melakukan hubungan intim,menyetubuhi, dan kata lainnya yang secara manfaat dan konotasi tidak tepat. Bukan salah, tapi tidak tepat.

Memahami Peran Penggunaan Istilah Di Media - Dalam kritik sastra, ada tiga macan seni, yakni seni bicara (retorika,) seni menulis, dan seni memahami (Hermeneutika.) Hermeneutika sendiri dibangun oleh logika, dialektika, pun retorika, waima itu belum komplit jika ditambahkan pada tataran mazhab tiap filsuf dan tokoh sosial.

Hermenutika dalam pembahasan intrepetasi memiliki batasan tersendiri dan tujuan sesuai dari mazhab yang  dianut, untuk persoalan romantisasi makna dari teks ke konteks Frederich Schleiermacher mengungkap secara runut persoalan intrepetasi gramatikal. Yakni pergeseran makna dalam kata, misalnya dari frasa "Setelah Badai, akan ada pelangi" sebuah makna yang cukup dalam. Tentang perjuangan dan harapan dimana fase penting memperjuangkan suatu kondisi akan sampai dengan titik tujuan, namun disisi lain bisa bergeser maknanya menjadi setiap harapan (perjuangan) harus melewati badai (halangan). dua premis berbeda namun berasal dari frase yang sama. Untuk itu dalam ilmu bahasa Indonesia, dikenal dengan penggunaan kata serapan, baku, dan istilah asing. Ketiga istilah atau penggunaan kata yang tepat disusun agar teks ke konteks sesuai. Dalam hal ini pembacaan masyarakat pada headline berita mendekati pada konteks dan kasusnya.

Mengapa hal ini penting karena selain intrepetasi gramatika, dalam hermeneutik juga disambung dengan intrepetasi psikologis. Atau pemaknaan yang dimediasi oleh mental. Artinya kata atau istilah yang digunakan melekat pada sebuah fungsi dan tujuan pada pikiran atau tepatnya mental pembaca.

Mental pembaca dibangun secara tidak sadar dari premis yang dibuat oleh berita tersebut. Jika premis yang diangkat memanjakan makna dari kata perkosa menjadi mencabuli maka hukum yang disandarkan pada kasus tersebut akan mudah pula dianggap sebatas dari kata cabul. Sedangkan dari penggunaan dan fungsi kata cabul tidak mewakili kondisi kekerasan seksual yang mengakibatkan kehamilan.

Itu mengapa romantisasi bahasa pada subtema intrepetasi maupun secara holistik dihermeneutika sangat kontroversi mengingat sandaran kasus pada kata/istilah sangat mempengaruhi mental pembacanya. Bukan hanya terpicu tapi tersugesti secara valid.

Untuk itu, sebagai media berita apalagi dengan insight yang besar harusnya menggunakan frase headline yang tepat dan sesuai konteks dan kasus. Karena masyarakat terlalu sering berdebat dipersoalan yang tidak tepat sasaran hanya karena penggunaan istilah, premis, dan penulisan artikel yang induksi-deduksinya tidak relevan. Terbantahkan oleh persidangan kasusnya tapi terlanjur tersugesti ke pembaca secara alam bawah sadar mengenai istilah yang bergeser maknanya tersebut. 

Posting Komentar untuk "Memahami Peran Penggunaan Istilah Di Media"

Berlangganan via Email