Kamis, 27 Agustus 2020

Mengapa isu kulit hitam ditolak di Indonesia.

Indonesia Tak Mengenal Isu Rasisme Kulit.


By. Sandra Ramli
 
“Akan tetapi Irian Barat adalah sebagian dari tubuh kami,” kata Sukarno kepada penulis Cindy Adams dalam otobiografi Sukarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Apakah seseorang akan membiarkan salah satu anggota tubuhnya dipotong begitu saja tanpa membalas sedikitpun? Apakah orang tidak akan berteriak kesakitan, apabila dipotong ujung jarinya sekalipun hanya sedikit?”
--------------



Pernah dalam sebuah utas seorang aktivis Papua sangat geram dengan sloga " Sa Papua Sa Indonesia" sebuah slogan bagi masyarakat umum yang menggambarkan empati untuk ikut mendukung perjuangan masyarakat Papua menghadapi diskriminasi Ras dan masih memasuki tahapan lain dalam mengubah stigma persamaan dan persaudaraan. Atau munculnya aksi influencer dan publik figur yang membalas tagar #papualivematters dengan #alllivematters.

Tagar yang sebenarnya tidak tepat sasaran. Karena kenyataannya apa yang dilawan oleh penggugat #papualivematters terkesan gegabah dengan bunyi #alllivematters. Sebuah cara pandang yang menganggap kemiskinan runtun di Papua adalah Takdir padahal mereka berjuang mati-matian untuk lepas dan kenyataannya tertindas dan dianggap terbelakang. Yang mempertahan nasib mereka di Indonesia tidak lain adalah kekayaan alam yang sedari dulu disadari sebagai modal penting menghindari investor asing, namun dipemerintahan orde baru justru menjadi sasaran empuk dan diserang dalam operasi militer padahal apa yang mereka perjuangkan adalah hak hidup dan warisan leluhurnya. 

Sejarah panjang ketika Soekarno berupaya mengembalikan dan menyatukan Irian Barat pada Indonesia adalah satu fase penting untuk memulai dasar analisa darimana penyimpangan bermula. Selain masalah geopolitik juga masalah sikap pemerintahan Soeharto yang kala itu berhasil mengambil hati rakyat Papua lalu menjual tanah adatnya kepada Freport. 

Ada tiga Hal yang kita bisa tangkap dari kisah Papua, yakni sejarah panjang militer versus masyarakat adat yang berujung pada status masyarakat adat Sebagai OPM (Orang Papua Merdeka) dan Papua menjadi DOM  (Daerah Opesai Militer). Lalu kedua, Mindset Rasis telah tertanam setelah dijajah berabad-berabad oleh kolonial Belanda, dan terakhir Panjangnya nafas perjuangan masyarakat Papua adalah hilangnya solidaritas banyak orang yang menganggap isu papua adalah konflik bayaran dari Barat. 

Dari tiga hal tersebut, rugi sekali rasanya jika kita tidak melihat apa dasar penolakan dari aktivis Papua terhadap beberapa empati dan nilai sosial yang ditawarkan masyarakat luar. 

Sejak abad 19, Belanda, Jerman, dan Inggris telah lebih dulu menjelajahi dan mengeksplore kekayaan alamnya, 1848 Jerman menguasai daratan sebelah utara dan Inggris sebelah selatan. Besarnya kekayaan alam membuat Papua sebagai negata tujuan terkaya yang harus dirampas. Dalam berbagai strategi politik, hingga aksi suap-menyuap. Dan akhirnya 3 suku harus kehilangan tempat tinggal ketika Freport mulai membuat lubang besar pertambangan disana. 

Lalu apa yang harus dilakukan untuk menunjukkan rasa kemanusiaan terhadap mereka tanpa mendukung referendum. Menurut Veronica Komang yang merupakan aktivis dan orang berpengaruh dari beberapa aksi rakyat Papua, "Rasisme di Papua perlu disimak dan dipelajari. Menggunakan superioritas atas nama mayoritas dalam aksi "anti-rasisme" adalah makanan basi bagi mereka. Bahkan mereka sudah berani menolak hujatan binatang terhadap fisik mereka.

Dalam sebuah webinar Vero mengungkapkan kita harus melakukan petunjuk kawan-kawan disana dengan diam. Diam, yang artinya mendengarkan mereka menyimak dengan seksama bagaimana mereka medapatkan tindakan rasisme hingga tuduhan subversif. Selanjutnya mendukung kampanye yang diusung mereka, sebagai wujud kesadaran bahwa Rasisme masih terjafi dan Papua tidak baik-baik saja. Ketiga, menghimpun informasi penting terkait kekadian disana. Demikian tiga kunci yang disampaikan apara aktivis solidaritas dan aktivis Papua langsung. Bagaimanapun Papua belum merasa bagian dari Indonesia jika belum mendapatkan keadilan ditanah kelahirannya. 


0 komentar: